Nyate Tradisi Saat Idul Adha, Kuatkan Persaudaraan Sebagai Bentuk Kehangatan Keluarga

oleh -269 Dilihat

GapuraPriangan, Setiap penganut agama Islam pada dasarnya  merayakan dua hari besar keagamaan, disamping perayaan Idul Fitri, jutaan umat muslim di dunia acap kali merayakan hari raya besar lainnya termasuk perayaan hari raya Idul Adha atau sering disebut juga hari raya Idul Qurban. Hari raya Idul Adha bentuk ketaatan dan rasa syukur manusia terhadap sang pencipta dengan menyisihkan sebagian rezekinya untuk mengurbankan hewan pilihan yang ditetapkan sesuai syareat dan ketentuan secara Islami.

Salah satu daerah yang penuh keanekaragaman kuliner, Indonesia memiliki cara tersendiri dalam mengolah hewan pilihan pada perayaan hari raya Idul Adha tersebut. Termasuk di daerah Jawa Barat khususnya, Tradisi Nyate sering kali dilakukan di daerah tatar pasundan ini, seperti wilayah Tasikmalaya, Ciamis, Banjar, dan daerah sekitar. Bentuk kehangatan keluarga terlihat walaupun senantiasa dilakukan hanya sekali dalam setahun.

Nyate sendiri berasal dari kata sate atau satai adalah makanan yang terbuat dari daging yang dipotong kecil-kecil dan ditusuk sedemikian rupa dengan tusukan lidi tulang daun kelapa atau bambu kemudian dipanggang menggunakan bara arang kayu.

Sate sendiri biasanya diberi saus, saus ini bisa berupa bumbu kecap, bumbu kacang, atau yang lainnya, disertai acar dari irisan bawang merah, mentimun, maupun cabai rawit. Teman makan sate dapat dengan nasi hangat, lontong atau ketupat. Entah kapan tradisi nyate ini dimulai, namun tradisi nyate ini merupakan simbolis budaya dalam mempererat tali silaturahmi. Dimana setiap keluarga dapat berkumpul dengan cara memanggang bersama potongan-potongan daging yang sudah di bumbui sebelumnya.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, perayaan hari raya Idul Adha kini diperingati di tengah- tengah pandemi covid-19. Jajang (65) kakek paruh baya yang tinggal di Jl. Buninagara 3 Kel.Nagarasari Kec. Cipedes Kota Tasikmalaya ini mengaku belum dapat berkumpul kembali bersama anaknya yang merantau di daerah Kalimantan. Keluh Jajang, “Tahun ini tidak semua keluarga dapat berkumpul, apalagi anak saya yang memiliki usaha di daerah Kalimantan, usahanya sepi mungkin akibat dampak pandemi covid-19, sampai akhirnya dia tidak bisa pulang mudik ke tanah kelahirannya untuk nyate bersama”. (Goday)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.