Bersama Keluarga Dengan Botram, Hangatkan Kembali Persaudaraan

oleh -201 Dilihat

BUDAYA BOTRAM ERATKAN KELUARGA MENJELANG RAMADHAN

Suara bedug bertabuh seolah menghantarkan kita kepada lembaran-lembaran nafas Illahi, mengingat selalu masa disaat lipatan sarung terurai pada pundak dan penyanggah khas kepala yang sering disebut kopeah terpasang apik layaknya mahkota. Semua orang hilir mudik mendatangi rumah mulia yang tak pernah lelah mengumandangkan keagunganNYA. dengan membawa sebuah kitab berisi ilmu tentang Sang Maha Kuasa.Ya itulah suasana khas ketika memasuki bulan yang mulia.

Beberapa sepekan hari lebih lagi kita akan memasuki bulan yang penuh keberkahan, bulan dimana segala ucapan dan langkah adalah ibadah. Inilah momen yang selalu ditunggu oleh orang muslim pada khususnya. Setiap akan memasuki bulan Ramadhan, masyarakat  di tatar priangan baik itu Tasikmalaya, Garut, Banjar, Pangandaran, termasuk Ciamis. Menjadikan momen menjelang Ramadhan dengan mempererat keluarga melalui budaya “Botram”. Dimana kegiatan ini biasa dilakukan sehari atau dua hari menjelang Ibadah Shaum, atau terkadang kita mengenal dengan sebuah istilah “munggahan”yang berarti ngabungahkeun atau sama halnya membahagiakan.

Istilah botram muncul pertama di tanah pasundan, kata botram itu sendiri memiliki makna makan bersama, makan tersebut dapat dilakukan bersama keluarga, kerabat maupun teman sejawat. Biasanya menu khas sunda yang disajikan meliputi ikan asin, lalapan, sambal, nasi liwet, kerupuk, atau terkadang ditambahkan ikan bakar, lalapan pete, jengkol, dan pelengkap menu minuman nya adalah air kelapa muda atau dwegan. Sungguh pasti menggugah para penjelajah perut, apalagi suasana atau tempat dalam acara botram diadakan di saung pinggir sawah, di kebun, di pantai, maupun di pinggir kolam beralaskan tikar.

Walaupun botram diadakan dengan menu yang lebih sederhana, namun inti dari segalanya ialah rasa kebersamaan diantara keluarga maupun kerabat. Menu kebersamaan yang dihidangkan pada dedaunan, biasanya dengan daun pisang dan diselingi dengan rasa canda tawa, saling cerita kehidupan, tak ada istilah kata sedih ketika kita botram. Seolah sesaat waktu terhenti, waktu yang berputar tak terasa penuh dengan kejenuhan aktifitas kegiatan sehari-hari. Nah di momen inilah, indahnya kebersamaan dapat terlihat dan hal ini tak kan ternilai dengan apapun.

Mimin (65) bercerita “Jamannya emak dulu botram itu dilakukan bukan hanya menjelang Ramadhan saja, tapi saat hari-hari dimana waktu liburan, kalau masa nya emak, sebelum botram kita cari ikan dulu di kali, kemudian ikan nya di bakar dengan bumbu seadanya, walaupun hanya garam tapi rasanya enak, dengan nasi liwet pada daun pisang, kemudian ditambah sambal ma pete, duh mantap pokonya”. Mimin pun teringat pada anaknya yang saat ini bekerja di Jakarta dan belum bisa dipastikan pulang ke tanah kelahirannya di wilayah kecamatan Cikoneng Kabupaten Ciamis.

Mimin yang seharinya-harinya berjualan nasi timbel di kawasan pemancingan Rancamaya Cikoneng ini berharap wabah virus corona ini segera berlalu. Dan dapat dipertemukan kembali pada bulan yang penuh Rahmat nanti, karena setiap menjelang Ramadhan terkadang di sekitaran kolam pemancingan rancamaya selalu ada acara botram keluarga, entah itu keluarga yang berkunjung, maupun warga sekitar yang hendak mengadakan acara botram bersama keluarganya masing-masing. (Gdy)

Gapura Priangan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.