Jejak Laskar Macan Ali Di Tanah Pasundan, LMA Tasikmalaya Lakukan Baksos Keliling

oleh -55 Dilihat

Tasikmalaya, “ANGGAYUWA SIRAMARING KALUHURAN” sebuah kata yang memiliki filosofis luar biasa bermakna “kebenaran senantiasa satu, tapi tak cukup satu untuk mengungkap kebenaran”. Berbicara tentang seni budaya, khususnya sejarah masa lalu hal itu tidaklah cukup hanya sebuah simpulan, butuh adanya beberapa literasi yang disertai bukti konkret terhadap perkara tersebut. Sama halnya tak cukup satu untuk mengungkapkan sebuah kebenaran. Tugas penting inilah yang mesti dilakukan oleh generasi sekarang, agar senantiasa menjaga, merawat serta melestarikan seni budaya serta sejarah masa lalu.

Seperti halnya Jejak Laskar Macan Ali yang mana merupakan sebuah pasukan khusus Kesultanan Cirebon di bawah kepemimpinan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Melansir detikepri.com sebuah kesultanan atau kerajaan yang berdaulat pada saat itu memiliki sebuah bendera yang bernama bendera Macan Ali. Hal ini pulalah menjadi saksi sejarah kejayaan pasukan atau Laskar Kesultanan Cirebon yang kemudian di kenal dengan Laskar Macan Ali.

Pasukan ini jugalah yang di kenal sebagai pasukan dari timur yang  bersama pasukan Kesultanan Demak bergabung dengan Kesultanan Banten dalam mengusir penjajah Portugis yang hendak menguasai Sunda Kelapa di bawah Komando Falatehan atau Fatahilah. Dalam medan peperangan inilah bendera Macan Ali pernah di bawa ke Sunda Kelapa dan beberapa keturunan pasukan khusus Laskar Macan Ali kini tersebar di bumi Nusantara hingga hari ini.

kebenaran senantiasa satu, tapi tak cukup satu untuk mengungkap kebenaran“.

Filosofi Laskar Macan Ali

Adapun keberadaan Bendera Macan Ali kuno kini tersimpan dengan baik di Museum Tekstil, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Sebuah Bendera Berwarna dasar hitam dibuat dengan teknik batik tulis dan bertanda tahun 1776, dan terdapat berbagai tulisan dan simbol yang ada pada bendera tersebut, yang hingga saat ini masih terus dilakukan penelitian tentang apa makna pada bendera tersebut. Atas dasar itulah, Panglima Tinggi Laskar Macan Ali Prabu Tribuwana Tunggaldewa atau lebih akrab dengan panggilan Mama Prabu Diaz  menginisiasikan diri beserta para ahli, tetua Kesultanan Cirebon dan para laskar untuk menghidupkan kembali Laskar Macan Ali.

 

Laskar Macan Ali salah satu seni budaya yang ada wajib kita lestarikan sebagai bukti Bahwa Indonesia kaya akan seni dan budaya hal ini menjadi kebanggaan kita bersama dan bangsa Indonesia. Bila kita ingin mengangkat budaya leluhur maka pertama yang kita lakukan adalah mengangkat ke arifan lokal sehingga apa yang menjadi tujuan akhir akan tercapai sesuai harapan. Termasuk di Tasikmalaya kini keberadaan Laskar Macan Ali memiliki bentuk kepedulian terhadap seni budaya maupun sejarah dalam melestarikan kearifan lokal tersebut. Dengan harapan keberadaan “Laskar Agung Macan Ali Nuswantara, Kesultanan Cirebon” Tasikmalaya ini memberikan dampak baik khususnya generasi muda agar mau peduli terhadap sejarah bangsanya sendiri.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap para masyarakat yang terkena dampak wabah covid-19, Laskar Macan Ali Tasikmalaya mengadakan bakti sosial keliling Kota Tasikmalaya guna sedikit meringankan beban masyarakat yang terdampak wabah covid-19 khususnya masyarakat yang benar-benar membutuhkan seperi halnya para lansia yang masih melakukan kegiatan pemenuhan ekonomi di tepian jalan, para tuna wisma, termasuk anak jalanan. Kegiatan baksos ini dimulai dari wilayah Pasar Pancasila, Jl. Cipedes, Jl. Mitra Batik, Jl. Nagarawangi, melewati Pasar Cikurubuk dan kembali ke Pos Pasar Pancasila. Kegiatan baksos ini rencananya akan berlanjut dan dibahas kembali oleh Laskar Macan Ali Tasikmalaya. (Gdy)

Gapura Priangan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.