Benarkah Tradisi “Ngaliwet” Dapat Mempererat Persaudaraan, Komunitas Tasik Musik Grunge Rindu Kebersamaan

oleh -114 Dilihat

gapurapriangan.com – Banyak sekali keanekaragaman yang ada di tanah Priangan, mulai dari seni budaya termasuk tradisi yang acap kali dilakukan khususnya warga Sunda. Persaudaraan yang kuat terlahir dan terjalin dari sebuah tradisi yang mana tradisi tersebut kental dengan berbagai makna.

Kebanyakan orang tua terdahulu mayoritas bermata pencaharian sebagai petani maupun berladang. Disaat rasa mulai lelah terkadang orang tua terdahulu cenderung membawa bekal untuk dapat disantap setelah memanen padi secara bersama di tepian sawah.

Bekal tersebut merupakan nasi yang dimasak secara berbeda, kita sering mengenalnya dengan nasi liwet.
Hal ini menjadi tradisi dengan sebutan ngaliwet, ngaliwet sendiri merupakan istilah dalam bahasa Sunda yang berarti memasak nasi dengan cara yang berbeda. Biasanya tradisi tersebut dilakukan saat sedang bepergian ke sebuah tempat yang jauh dari tempat tinggal.

Dikutif dari sebuah literasi menurut Prof Murdijati Gardjito, seorang ahli kuliner Universitas Gadjah Mada, pada awalnya tradisi ngaliwet merupakan upaya penghematan masyarakat Sunda di Jawa Barat yang mayoritas bekerja sebagai penggarap ladang.

Dahulu mereka terbiasa membuat makanan yang cukup banyak, dengan beberapa tambahan lauk agar bisa dimakan ketika berada jauh dari tempat tinggal, tanpa harus memasak atau mencari keluar ladang.

“Karena orang zaman dulu yang tinggal di tanah Sunda menempuh perjalanan jauh menuju ladang atau kebun, maka nasi liwet ini adalah menu bekal makan untuk menghemat, yang nasinya disajikan bersamaan dengan lauknya dalam satu wadah, sehingga bisa awet dari pagi hingga siang, dan tinggal menghangatkannya menggunakan ketel,” jelasnya seperti dikutip dari ilmubudaya.com.

Perpaduan bumbu rempah yang alami, dengan dibalut dengan daun pohon pisang dan layanan, serta lauk pauk berupa ikan asing, menjadi menu andalan dalam tradisi ngaliwet.
Kini ngaliwet dapat dilakukan bersama keluarga, teman maupun saudara dalam berbagai kegiatan. Adapun makna ngaliwet itu sendiri dapat terbentuk rasa persaudaraan saat memakannya. Hal ini berkenaan dengan cara memakannya berdasarkan kebiasaan dari masyarakat Sunda.

Mereka akan menyediakan daun pisang yang panjang dan lebar untuk mewadahi nasinya setelah matang dan menyantapnya secara bersama-sama sambil duduk bersila.

Pada momen Hari Raya Idul Fitri khususnya, banyak kegiatan untuk menjalin kembali tali silaturahmi, salah satunya dengan cara ngaliwet. Komunitas Tasik Musik Grunge dalam menjalin kembali komunikasi yang telah lama sirna dengan cara Ngaliwet di Jl. Cinehel, Nagarasari, Cipedes, Kota Tasikmalaya, Minggu (9/5/2022).
Dengan menu yang sederhana, namun yang paling utama ialah kumpul kembali setelah beberapa tahun lamanya, “Ya walaupun menu dengan alkadarnya seperti ikan asin, tempe, tahu, lalapan, sambal dan kerupuk, tapi saya bersyukur dapat berkumpul seperti ini, padahal hampir puluhan tahun kita jarang bertemu, ” Jelas Wandi penggemar musik Grunge. (Red/Y.W)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.