Berawal Dari Kepedulian Terhadap Dunia Pendidikan, Dadang Rachmat Al Faruq Mampu Menjadi Contoh Figur Generasi Milenial

oleh -176 Dilihat

gapurapriangan.com – Generasi muda merupakan barometer pembangunan, peran serta pemuda-pemudi haruslah aktif berkesinambungan. Hal ini terlihat dari sosok Dadang Rachmat Al Faruq yang peduli terhadap potensi daerahnya hingga berkembang.

Pria yang terlahir pada Minggu, 10 Agustus 1975, di Kampung Cirando, Desa Kadipaten, Kecamatan Kadipaten. Putra pasangan Ikin Sodikin dan Aisyah ini, sejak kecil memang biasa hidup dalam kemandirian akibat ekonomi keluarga yang tergolong kurang mampu. Tidak ada yang gratis dalam hidup Dadang, dan itu yang menjadikan Dadang tumbuh sebagai pribadi yang tegar juga pekerja keras.

Berbagai kegetiran dan kepahitan hidup yang di jalaninya seakan menempa Dadang menjadi pribadi yang mandiri dan bersemangat. Cita-citanya untuk mengenyam pendidikan tanpa didukung keadaan ekonomi yang mapan, lambat laun menumbuhkan jiwa visioner di dalam diri Dadang. Di usianya yang masih dini Dadang telah bekerja keras sebagai buruh tani untuk membantu meringankan beban kedua orang tuanya dalam biaya pendidikannya.

Selepas lulus Tsanawiyah, berbekal ijazah Tsanawiyah yang di milikinya, Dadang mulai mendedikasikan dirinya di masyarakat sebagai pengajar sukarelawan di Madrasah Diniyah Kampung Cirando. Dadang menyadari bahwa  kebutuhan tentang pendidikan sangat tinggi bagi masyarakat Cirando dan inilah yang mendasari Dadang untuk mengabdikan dirinya sebagai Guru Diniyah sekalipun upah/gaji Guru Diniyah pada masa itu sangat minim. Disamping aktifitasnya sebagai Guru Diniyah, Dadang kembali melanjutkan pendidikannya hingga ke jenjang Aliyah. Ambisi Dadang untuk mengeyam pendidikan hingga jenjang lebih tinggi seakan tak surut sekalipun keadaan ekonominya pas-pasan.

Tentunya biaya pendidikan pada masa itu sangatlah tinggi, banyak teman-teman sebaya Dadang tak melanjutkan sekolah lanjutan atas hanya karena terbentur keadaan ekonomi keluarga. Namun tekad Dadang untuk menempuh pendidikan tinggi membuat Dadang mandiri dalam memenuhi kebutuhan pendidikannya. Keadaan ekonomi yang kurang mampu membuat Dadang berinisiatif menyambil kerja serabutan di luar kegiatannya sebagai Guru Diniyah. Pekerjaan buruh panggul sayuran, ojek,  buruh tani hingga kuli bangunan di jalani Dadang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Di sela kegiatannya sebagai pengajar, Dadang mulai mengenal Ustadz E. Mahmudin Al Andry, seorang sosok ulama yang peduli pada dunia pendidikan. Ustad E. Mahmudin Al Andry menjadi inspirator dan motivator bagi Dadang untuk meningkatkan sumber daya manusia masyarakat Cirando di bidang pendidikan. Keduanya kemudian bekerja sama mewujudkan pembangunan Tsanawiyah mengingat pada masa itu sebagian besar pendidikan masyarakat Cirando di jenjang sekolah lanjutan terhambat akibat jarak tempuh sekolah yang sangat jauh. Akibat kerja keras keduanya sejak tahun 1998, akhirnya di tahun 2001 berdirilah sekolah Tsanawiyah di kampung Cirando sebagai sekolah lanjutan pertama Tsanawiyah satu-satunya di kecamatan Kadipaten.

Keberhasilan Dadang mendirikan Tsanawiyah membuat citra Dadang meningkat di mata masyarakat kampung Cirando. Hal ini menjadikan  Dadang mulai aktif berpartisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan dan organisasi di daerahnya, salah satunya dengan menjabat sebagai ketua pemuda. Di bawah kepemimpinan Dadang, generasi muda kampung Cirando mulai aktif di bidang sosial dan kemasyarakatan. Sosok Dadang mampu memotivasi generasi muda Cirando untuk berperan serta dalam berbagai kegiatan pembangunan di daerahnya.

Seiring itu ekonomi Dadang lambat laun mulai meningkat, terlebih Kakak Dadang, A Yayat, mulai membimbing Dadang di bidang bisnis dan wirausaha. Mulai dari menjadi pemborong bangunan (kontraktor), pengepul sayuran hingga kredit barang kebutuhan rumah tangga di lakoni Dadang di bawah binaan dan bimbingan A Yayat. A Yayat mengenalkan Dadang pada sistem manajemen bisnis tentang bagaimana cara melobi relasi, menjaring investor, sistematis distribusi hingga analisa market dan sistem marketing. Jiwa enterpreneur yang tumbuh di diri Dadang hampir seluruhnya merupakan hasil didikan A Yayat.

Perkembangan bisnisnya yang baik, dan taraf ekonomi Dadang yang meningkat membuat Dadang menjadi sorotan masyarakat Cirando. Sepak terjang Dadang yang kritis dan idealis sebagai ketua pemuda Cirando membuat beberapa tokoh masyarakat menyarankan Dadang untuk terjun di bidang pemerintahan desa. Salah seorang tokoh masyarakat Cirando , ustadz Saepudin, mendorong Dadang yang untuk menjadi anggota BPD (Badan Permusyawaratan Desa). Ustad Saepudin dan beberapa tokoh masyarakat merasa bahwa kampung Cirando membutuhkan figur Dadang untuk memperjuangkan pembangunan di daerahnya.

Atas desakan masyarakat, Dadang kemudian melenggang dalam penjaringan anggota BPD. Dadang paham bahwa untuk meningkatkan sistem pemerintahan yang lebih baik, tidak cukup melakukan kontrol dan monitoring kinerja sistem pemerintahan, tapi juga harus menjadi bagian dari pemerintahan itu sendiri agar lebih memahami pola birokrasi dan administratif dari pemerintahan itu. Berbekal harapan kemajuan untuk kampungnya maka Dadang mulai bergabung sebagai anggota BPD.

Awal Karir dan Sepak Terjang

Selama menjabat sebagai anggota BPD, Dadang dikenal sebagai sosok yang berani dan vokal (lantang) dalam mengkritisi kebijakan pemerintah desa, terutama di bidang pembangunan dan pelayanan publik. Segala kebijakan yang di pandang tidak Pro rakyat maka Dadang berdiri terdepan dengan lantang mengkritisi hal tersebut. Hal itulah yang menghantarkan Dadang untuk terpilih sebagai PJS (Pejabat Sementara) Kepala Desa menjelang Pilkades (Pemilihan Kepala desa). Berduyun-duyun tokoh masyarakat merekomendasikan Dadang untuk menjadi pejabat Kepala Desa pengganti di Desa Kadipaten.

Di kemudian hari, Dadang terpilih menjadi Pejabat Sementara (PJS) dan menduduki kursi Kepala Desa Kadipaten. Kedudukannya selama dua tahun menjabat PJS Kepala Desa Kadipaten, membuat Dadang lebih memahami tentang sistem birokrasi dan administrasi desa. Pergaulan Dadang yang supel membuat Dadang piawai dalam menjalin relasi dengan para birokrat. Tentunya hal itu menguntungkan bagi pemerintahan Dadang, yang berujung banyaknya program pembangunan yang dilaksanakan oleh Dadang Selama masa pemerintahannya.

Melihat kinerja pemerintahan desa di bawah pimpinan Dadang, masyarakat desa Kadipaten merasa puas dan nyaman. Selama masa jabatannya, masyarakat menilai Dadang mampu menyelesaikan beberapa konflik komunal di daerahnya, Dadang mampu menciptakan persatuan di antara masyarakat desa Kadipaten, Dadang mampu menciptakan sistem program pembangunan yang kondusif dan terbuka, serta pelayanan publik yang baik.

Di pilkades (pilihan Kepala Desa) 2014 berikutnya beberapa tokoh masyarakat desa Kadipaten mendorong Dadang untuk berpartisipasi, mereka menilai bahwa pemerintahan desa jauh lebih baik di bawah kepemimpinan Dadang di bandingkan beberapa tim staff pemerintahan sebelumnya. Dadang tak serta merta menanggapi hal tersebut. Dirinya paham, bahwa jabatan Kepala Desa selain jabatan publik, tapi juga jabatan politis dan dirinya merasa masih hijau di dunia politik. Namun dorongan beberapa tokoh masyarakat yang sangat antusias membuat Dadang tidak mampu menolak tawaran tersebut. Akhirnya di pertengahan 2009 Dadang turut mendaftarkan diri dan menjadi peserta Pilkades.

Beberapa tokoh masyarakat yang bergabung dengan Dadang sebagai tim pemenangan pilkades bukanlah sekedar tokoh yang bergerak di bidang kemasyarakatan belaka, tapi juga berpengalaman sebagai sayap dari beberapa partai. Berbekal saran dan pengalaman mereka, Dadang merasa optimis dalam menggelar aksi kampanye. Dengan pola kampanye yang baik dan kinerja tim pemenangan yang terarah, akhirnya Dadang mampu memenangkan Pilkades dan mempertahankan jabatannya sebagai Kepala Desa dengan masa bakti 2009 – 2014.

Sebagai kepala desa terpilih Dadang kembali menciptakan manuver dalam kinerja pemerintahannya dengan menggelar program pembangunan di beberapa daerah yang di sinyalir banyak lawan politik. Hal ini bertujuan untuk merangkul lawan politik dan mengaktifkan peran serta mereka dalam pembangunan Daerah. Selain itu Dadang memprioritaskan pembangunan Madrasah Diniyah serta Sekolah Dasar di beberapa kampung di wilayahnya. Dadang menyadari bahwa kemajuan masyarakat bukan sekedar membutuhkan pembangunan sarana dan prasarana, tetapi juga harus merubah pola pikir masyarakat yang di mulai dengan pembangunan Sumber Daya Manusia. Masyarakat yang intelektual tentunya akan mendongkrak perekoniam desa, dan kampung yang sejahtera dapat menciptakan desa yang tertata.

Di sela kesibukannya sebagai Kepala Desa, Dadang melanjutkan kembali pendidikannya hingga jenjang Strata 1 (S1). Di pertengahan masa jabatannya Dadang sukses menyandang gelar sarjana pendidikan islam (S.Pd.I).

Peningkatan pembangunan di bidang infrastruktur dan pemberdayaan selama masa pemerintahan Dadang, membangkitkan tingkat perekonomian desa. Setiap tahunnya bermunculan sejumlah enterpreneur (wirausahawan) yang keseluruhan adalah putra daerah setempat. Kesadaran masyarakat pun meningkat, sehingga kepedulian masyarakat terhadap pembangunan semakin membaik. Sistem gotong royong yang sebelumnya sangat sulit di gelar, kemudian menjadi satu tradisi yang biasa dilaksanakan masyarakat setiap kali pelaksanaan pembangunan.

Kepuasan masyarakat atas pemerintahan Dadang, membuat masyarakat kembali mengusung Dadang untuk melanjutkan pemerintahannya dalam periode kedua di ajang Pilkades 2014. Sejumlah tokoh yang sebagian besar para ulama dan aktifis masyarakat berdatangan mengunjungi Dadang dan memberi inspirasi untuk melanjutkan pemerintahannya. Mendengar pengakuan masyarakat atas kinerjanya membuat Dadang percaya diri untuk melenggang di ajang Pemilihan Kepala Desa selanjutnya di tahun 2014.

Dengan dorongan besar dari masyarakat, Dadang kembali memenangkan pilkades 2014 dan mempertahankan kursi Kepala Desa. Pemerintahan desa di bawah pimpinan Dadang kembali berjalan. Di samping itu, Dadang kembali melanjutkan pendidikannya untuk menempuh Strata 2, demi menuntaskan cita-citanya untuk mengenyam pendidikan tinggi. Dan di pertengahan masa jabatannya, Dadang berhasil menyelesaikan kuliahnya dan menyandang gela Magister Hukum (MH).

Pemerintahan Dadang berjalan baik sebagai mana sebelumnya. Pembangunan di setiap pelosok semakin meningkat. Rencana pembangunan yang di terapkan Dadang untuk jangka panjang, mampu di laksanakan hingga mencapai tahap 80%. Inilah kembali yang membuat masyarakat meminta Dadang untuk tetap melanjutkan jabatannya sebagai Kepala Desa dan berpartisipasi dalam Pilkades berikutnya di 2019.

Namun beberapa rekan juga kerabat  Dadang; Galih, Dadang suhendar, Cecep Agah Nagoya, Adin dan lainnya melihat Dadang memiliki potensi besar dalam dunia politik. Dalam pandangan mereka, pemerintahan Kepala Desa sudah saatnya regenerasi karena masih banyak generasi muda yang memiliki konsep membangun untuk Desa Kadipaten. Di samping itu, mereka melihat bahwa Dadang memiliki potensi besar dan sangat di sayangkan bila potensi itu di gunakan hanya untuk membangun Desa Kadipaten. Dalam pandangan mereka Dadang adalah sosok yang diharapkan mampu membangun Tasikmalaya wilayah utara. Mereka meminta Dadang untuk berpartisipasi dalam pemilihan legeslatif 2019 dan mencalonkan diri sebagai wakil rakyat.

Karir di Dunia Politik

Dadang sempat bimbang mendengar aspirasi beberapa rekannya tersebut, mengingat beban biaya kampanye yang tak sedikit dan tak terjangkau olehnya. Namun kembali rekan-rekannya mengingatkan bahwa sekalipun kampanye membutuhkan dana, namun tak semua dukungan masyarakat itu karena materi. Hal inilah yang memantapkan Dadang untuk mencoba peluangnya di ajang Pileg (Pemilihan Legislatif) 2019.

Berbekal optimisme Dadang bersama keluarga besar dan kerabatnya mulai menyusun manajemen kampanye dan membentuk tim dengan merekrut anggota tim yang dipandang loyal dan memiliki elektebilitas tinggi di masyarakat. Sekalipun biaya kampanye seadanya, namun tak menyurutkan langkah Dadang dan Tim untuk mensukseskan kemenangan di pileg 2019. Perjuangan dan pengorbanan mereka pun berbuah hasil, Dadang terpilih sebagai wakil rakyat mewakili Dapil 3 (Daerah Pilihan) dari Fraksi Gerindra. Kini Dadang memasuki era perjuangan baru, memperjuangkan aspirasi masyarakat Tasikmalaya wilayah utara menuju kesejahteraan yang lebih baik.(Red/Y.W)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.