Jajanan Sehat Tak Lekang Oleh Waktu

oleh -279 Dilihat

(AWUG) JAJANAN ASIK ALA GALUH

Untaian mutiara seakan tak pernah habis di telan masa, sungguh eksotik menyilaukan pandangan senja. Setiap anak berlari kencang diiringi canda tawa penabuh irama, sepasang bola mata tertuju pada cahaya malam berhias mutiara. Hadirkan perasaan sunyi nan tenang dibarengi penikmat rasa, jajanan klasik seolah terkikis waktu namun selalu hadirkan pesona kenangan masa lalu.

Ingatkah kita ketika Ibu atau Bapak kita membawakan sebuah bingkisan? sesaat beliau pulang dengan penuh wajah senyum, sambil berkata ”Nak ini buat kamu, belajar yang rajin ya?” atau ketika kita masih dalam dunia remaja penuh nuansa romantik kala itu, sengaja datang untuk teman spesial dengan membawa bingkisan. Bukan makanana ala Barat ataupun ala Timur Tengah. Sebuah bingkisan yang mana pernah jaya pada era nya, makanan yang tak pernah lekang waktu walaupun diterjang gelombang modernisasi. Sebuah bingkisan berupa kue, kue dimana merupakan icon atau ciri khas dari tanah Pasundan. Yang konon, kue tersebut pernah menjadi salah satu makanan ringan favorit para bangsawan.

Entah kapan yang pasti asal muasal kue ini, namun kue ini memiliki khas tersendiri saat dinikmati. Kue Awug merupakan kue asli dari tanah Sunda, kue yang berbahan dasar tepung beras ini, atau orang tua dulu menyebutnya “pare”. Kue yang turun temurun menjadi santapan dikala malam hari mulai datang. Walaupun boleh juga dinikmati setiap saat, namun rasanya belum pas, karena kue awug sangat enak dinikmati saat masih hangat apalagi ditemani dengan segelas kopi hitam. Sehingga sejenak melepas penat dikala beban pikirang sedang melanda.

Adapun bahan dasar dari pembuatan kue awug terdiri dari tepung beras, air, gula merah, garam, dan bahan lain nya yang menunjang. Bahan yang sebelumnya disiapkan kemudian diolah dan dikukus pada sebuah bambu berbentuk kerucut. Kalau orang sunda menyebutnya “aseupan” kue awug sendiri akan terasa lebih nikmat apabila cara pengolahannya memakai alat tradisional seperti bahan bakar dari bambu, bekas tapas kelapa, atau istilahnya suluh di atasnya memakai tampian yang terbuat dari seeng. Lapisan pada kue awug biasanya terlihat beberapa lapisan, di tengahnya terdapat adonan gula merah, barulah setelah matang dapat dipotong dan disajikan.

Era 90an kue awug masih banyak kita jumpai di berbagai daerah di Jawa Barat, namun memasuki era milenium, jajanan khas pasundan ini jarang ditemui mungkin ada beberapa sebagian yang masih menjajakan kuliner asli tanah pasundan tersebut. Rita Rosmawati (23) asal Gunung Gede Kec. Sindangkasih Kabupaten Ciamis ini mengemukakan “Saya mencoba untuk usaha pembuatan kue awug ini dengan citra rasa yang berbeda, untuk sementara saya biasa jual secara online, ke depan semoga ada rezekinya saya berencana membuka usaha jajanan khas tanah Galuh seperti kue awug, dan kue tradisional lainnya”.

Di tengah dilematika ekonomi saat ini termasuk wabah yang sedang melanda negeri ini, semoga terdapat lagi penjual-penjual makanan khas tradisional yang selalu memutar pikirannya untuk menghasilkan sebuah karya baik berupa kuliner atau pun bidang lainnya. Karena kalau bukan kita siapa lagi yang akan peduli terhadap ciri khas daerah khususnya di wilayah Galuh sendiri. Karena pada dasarnya ujung tombak pergerakan ekonomi terdapat dari para pelaku UMKM dan Ekonomi Kreatif lainnya.
Gejolak nuansa melodi akan kembali bersinar tatkala bangsa ini mampu menghasilkan sentuhan-sentuhan kecil irama bernada alami hantarkan alunan nada merdu, roda ekonomi pun akan kembali bergaung tatkala kita mampu memperhatikan sejarah dan budaya kita sendiri. Balutan Awug seolah memberikan kesan penikmat terlelap mengarungi waktu masa lalu di era modernisasi saat ini. (Gdy)

Gapura Priangan