Galuh dan Galih (Lahir dan Batin)

oleh -507 Dilihat

gapurapriangan.com – Kata Galuh dan Galih dalam budaya adat Sunda yang ada di tatar parahyangan merupakan kata yang memiliki nilai dan makna yang baik, mulia, suci dan bersih, berlian yang indah.

Dalam bahasa Sanskerta kata Galuh dapat di artikan permata yang indah, gunung, sungai dan alam ciptaanTuhan yang dapat membuat bahagia, kekuatan, ketentraman, kemulian. Sri Galuh artinya Ratu Galuh yang memiliki makna ratu yang memiliki paras yg berseri seperti intan berlian, cantik dan memiliki budi pengertian yg luhur. Zaman kerajaan ada tokoh seorang ratu kerjaan yang bernama Ratu Galuh. Galuh dapat di artikan putri raja yang masih perawan artinya masih suci belum ternoda.

Secara filosofi Kata Galuh berarti dasar yang paling inti, yang ada di dalam rasa hati. Galuh dalam bahasa Tagalog memiliki arti air dan sungai yang artinya air adalah zat inti sebagai bahan dasar menciptakan kehidupan mahluk. Air dan sungai ini merupakan ciptaan Tuhan yang nyata yaitu lahirnya, sedangkan zat inti sari nya yang ada dalam air dan dalam rasa adalah Galih nya atau batinnya. Batin adalah tidak nampak.

Dalam kidung Galuh sangat jelas makna dan arti nilai keluhuran kata Galuh ini.

KIDUNG GALUH

Sampurasun….
As hadu sahadat cipaku…
Ya …sangkuncung batara wenang ku Allah sirna sanikalangit.
Jagat rampak terima badan kaula, sir na Adam ku Allah ya Allah…

Ya Sang Hyang Wenang, Sanghyang Nur cahaya, Sang Hyang rasa, Sang Hyang punggung, Sang Hyang Nu Maha Kersa.

Sanghyang…. Sampurna sanghyang agung, cahaya bodas nu lungsur jadi hirup ngawujud dina rasa cipta alam…
Ciptaning raga…
Ciptaning karsa
Ciptaning rasa….
Rahayuu 3x alam..

Ahung. 3x
Galuh nu agung lungsur kabuana nyungcung…
Lungsur ka buana jadi gunung.
Gunung wujud buana indung panca tengah…
Nu Agung…
Sumber hirup nu ngejadikeun hurip jadi kahirupan…

Galuh anu Agung…
Nyuncung…. Ngagedur ka saban relung rasa….
Sanghyang rasa…nu linggih di jeroning dada jadi rasa Asih, rasa asuh, rasa asah, Rasa Siliwangi…

Ngawaruga ka saban karsa…
Karsa nu jadi cipta…. Sanghyang cipta.

Niskala naga raga, niskala naga karsa, niskala naga cipta, niskala naga rasa…..
Ngabentang dina hamparan boeh larang ngalokat ku lokananta… Dina pancuran tirta kamandalu ngajadi talaga wangi kahirupan.
Talaga Rohman Rohim Sanghyang tunggal nga wujud dina ratu Rahmad taala. Nu ngocorkeun cai kahirupan.

Galuh anu Agung
Talaga alam buana nu cicing dina raga indung pertiwi, nu nyipta hurip hirup kahirupan.
Wangi talaga jadi wangi diri

Car mancar cahaya Sanghyang cahaya..
Merbayaksa dina raga, jiwa, sukma, nyawa jadi lahir jeung batin.
Merbayaksa dina hamparan boeh larang jadi cahya kahirupan nu jadi gemah ripah loh jinawi…..
Galuh Galeuh Galih nu Agung
Rampes

Bukti-bukti nyata bahwa kata Galuh ini adalah kata di zaman dahulu yang merupakan sebutan dalam sebuah ajaran, wilayah, kerajaan, nama tokoh. Artinya bahasa Galuh ini merupakan bahasa yang mulia dan bernilai luhur. Bukankah sebuah nama yang baik kita mengharapkan sifat dan karakter itu baik sesuai dengan nama itu.
Kata Galuh dapat kita lihat dari sumber tradisi dapat kita lihat dari beberapa Naskah kuno:
– Babat bojong Galuh
– Cerita Lutung kasarung
– Cerita Parahyangan
– Wawacan sejarah Galuh
– Naskah Sanghyang Siksa Kandang Keresian.

Kata Galuh menjadi ilmu falsafah ( ajaran) yang di jadikan prinsif hidup orang Sunda dalam menjalankan kehidupan. Dan di jadikan motto hidup orang sunda, kerjaan Galuh.

“Hirup kumbuh teh kudu didasarkeun ku silih asih, anangina hirup teh teu cukup ku asih bae, kudu aya pemilih antawis hade jeung goreng. Ari sok kesengitkeun teh taya lian anging anu “Berbudi”.

Filsafat hidup orang Galuh yaitu:

” Pakenya gawe rahayu pakein heubel jaya di
buana”.

Bukti-bukti nyata katakan Galuh pada zaman kerajaan kuno adanya perundingan yang di sebut ” Perjanjian Galuh” Yaitu perjanjian yang berisi prihal batas wilayah antara kerajaan Sunda dan kerajaan Galuh, batas itu adalah sungai Cimanuk. Raja Sunda yaitu Raja Tarusbawa, raja Galuh yaitu Writekandayun.

Galuh dan Galih adalah pasangan yang harus kita miliki dan merupakan lahir dan batin kita. Lahir ada karena ada batin, batin ada karena ada lahir.
Galuh dan Galih merupakan ajaran “Budi Luhur”. Ajaran ini bersumber pada batin yang menjadikan petunjuk kehidupan. Karena petunjuk batin maka anggota badan berkerja sesuai fungsinya masing-masing. Gerah badan atas perintah batin, batin rusak maka gerak badan pun akan rusak. Telinga tuli, karena ada bagian telinga yang sakit, terganggu maka tidak bisa mendengar dengan dengan jelas.

Manusia harus mencintai dirinya sendiri, menjaga dirinya agar badan tidak rusak, maka perbaikilah batin. Jika badan rusak, namun batin tidak rusak maka kita akan mendapatkan kesempuraan hidup, karena batin yang bicara, mendengar. Hal di atas bahwa kita harus menjaga Galuh kita dan Galih kita agar kita memiliki kesempurnaan hidup, sehat lahir batin.

Gulah dan Galih ini sudah di atur dalam UUD 1945 dan pancasila yaitu tidak melakukan 7M yaitu: main, maling, madon, mabok, madat, maksiat( fitnah ), Mateni ( membunuh). Batin harus ada dalam ” Kawulaning Gusti “.

Galuh dan Galih merupakan ajaran “Budi Luhur”. Ajaran ini bersumber pada batin yang merupakan sumber kehidupan. Karena perintah batin maka anggota badan berkerja sesuai fungsinya masing- masing. Gerah badan atas perintah batin, batin rusak maka gerak badan pun akan rusak. Telinga tuli, karena ada bagian telinga yang sakit, terganggu maka tidak bisa mendengar sempurna. Manusia harus mencintai dirinya sendiri, menjaga dirinya agar tidak badan rusak, maka perbaikilah batin. Jika badan rusak, namun batin tidak rusak maka kita akan mendapatkan kesempuraan hidup. Makna hal di atas bahwa kita harus menjaga ke Galuh kita dan Galih kita agar kita memiliki kesempurnaan hidup. Lahir batin harus dalam rasa kawulaning rasa sejati. Jika rasa sejati datang dari Tuhan, maka gerak badan kita akan gerak dalam keridoan Tuhan. Galuh dan Galih adalah rumus dengan berpijak pada Ketuhan yang Maha Esa (manunggal) pada Tuhan untuk mencapai keselamatan dunia sampai ahir jaman. Kita harus sadar bahwa hidup adalah berasal dari penguasa Tuhan Yang Maha Esa yang ada pada setiap umatNya.
Galuh dan Galih sebagai ajaran yang menuntun kita. Melihat bukan dengan mata ( Galuh) tetapi dengan hati nurani ( Galih ). Ucapan bukan dengan mulut ( Galuh) tetapi sesuai dengan perbuatan, tekat, ucap dan lampah ( Galih ).

Galuh dan Galih harus selaras dan berharmoni menjadi nilai luhur yang menghubungkan diri sendiri, diri sendiri harus bisa menjaga:

– sehat Lahir : kecukupan sandang, pangan, papan dan batin harus memiliki tenggang rasa.

– Baik lahirnya : tidak bohong/dusta dan batinnya tulus, jujur.

– Benar lahirnya : tahu tak dan kewajiban, batinnya mempunyai harga diri.

– Pintar lahirnya: nyata dalam tekat, ucap, laku dan lampah, batinnya: menjadi panutan sesama hidup.

– Selamat lahirnya: tidak melakukan perbuatan yang mencelakaan orang lain, batinnya: hidup sebagai kawula Gusti yang kumawula terhadap Gustinya.

Manusia yang memakai prinsif Galuh dan Galih hidupnya tidak mengumbar nafsu dan amarah, menjadi manusia hidup rukun dengan sesama, mentaati perintah Gusti dan mewujudkan sifat kasih sayang terhadap sesama manusia dan mahluk lainnya.

Hidup dengan memakai prinsif Galuh dan Galih akan memperhatikan tata titi, tata krama, tata susila dan tata tertib. Sikap akan saling menghormati, menggunakan induk usuk pergaulan, sopan santun.

Demikian keterangan bahasa/kata ” Galuh dan Galih”. Harapan prinsif dan motto Galuh dan Galih yang merupakan nilai budi luhur orang Sunda yang merupakan hasil cipta budi dan rasa karuhun/nenek moyang kita ini menjadi dasar dan rumus untuk anak cucu kita menjalani hidup, agar hidup jayadigjaya, gemah ripah loh jenawi, toto tentrem kartaraharja. Prinsif ini sangat baik di pakai oleh seorang pemimpin, pedagang, pendidik bahkan semua orang yang memiliki status sosial yang berbeda beda.

Oleh : Ambu Laraswati