Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf Sebut NU Merupakan Perkumpulan Yang Besar, Rakernas PBNU di Cipasung Tasikmalaya

oleh -267 Dilihat

gapurapriangan.com  – Dalam kegiatan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PBNU di Aula Institut Agama Islam Cipasung (IAIC), Kompleks Pondok Pesantren Cipasung, Kecamatan SingaparnaKabupaten Tasikmalaya, Kamis (24/3/2022) malam, Pengurus Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum (LPBH) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LPBH PBNU) Masa Khidmah  2022-2027 resmi dikukuhkan oleh Katib Aam PBNU KH Akhmad Said Asrori.

Pengukuhan tersebut berlangsung secara khidmat, adapun Pengurus LPBH PBNU disahkan melalui Surat Keputusan Nomor 37/A.II.04/03/2022 dan ditandatangani oleh Rais Aam KH Miftachul Akhyar, Katib Aam KH Akhmad Said Asrori, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, dan Sekretaris Jenderal PBNU H Saifullah Yusuf.

Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, menekankan bahwa NU merupakan perkumpulan yang besar dan raksasa. Bahkan dengan tegas, ia mengatakan tidak ada entitas sosial-politik yang lebih besar dari Nahdlatul Ulama, (melansir kabarpriangan.com)

“PBNU saat ini memegang dua mandat yang sangat besar yakni mandat peradaban dan mandat sejarah,” ujar Gus Yahya, panggilan akrabnya. Hal tersebut, kata Yahya, bukanlah persoalan yang kecil tetapi menjadi pertanggungjawaban besar bagi seluruh jajaran PBNU. Termasuk pengurus lembaga dan badan khusus.

“Maka ini sangat bergantung dari kapan para pengurus ingin memulai melaksanakan pekerjaan untuk mewujudkan dua mandat besar yang dipegang itu,” ujarnya. Karenanya, ia mengajak agar para pengurus harus mulai bekerja mulai dari sekarang. “Mari kita mulai sekarang. Saya juga tidak akan membuat keluhan-keluhan tentang apa yang terjadi di masa lalu karena setiap zaman punya anak-anaknya sendiri,” kata Yahya.

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Kabupaten Rembang Jawa Tengah ini juga mengajak kepada seluruh jajaran untuk menjadikan zaman kepengurusan PBNU Masa Khidmah 2022-2027 ini sebagai permulaan untuk memperjuangkan terwujudnya dua mandat besar itu. “Mari kita jadikan zaman kita ini sebagai permulaan untuk memperjuangkan terwujudnya mandat peradaban dan mandat sejarah yang ditetapkan dan dicanangkan oleh kiai-kita kita, para muassis (pendiri) NU,” ujarnya.

Rais ‘Aam PBNU KH. Miftachul Akhyar berharap kepada para pengurus lembaga dan badan khusus dapat melahirkan karya nyata yang memberikan dampak pada kesejahteraan umat. Ia meyakini, tanda kesejahteraan itu sudah tampak. “Berkemampuan finansial, kuat dalam ekonomi sangat penting di akhir zaman ini. Hal ini agar dapat menjadikan organisasi mampu dan lebih dihormati orang lain,” ucapnya.

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Cipasung KH. A Bunyamin Ruhiat menceritakan sejarah Muktamar ke-29 NU Tahun 1994 di Pondok Pesantren Cipasung mengantarkan KH M Ilyas Ruhiat menjadi Rais Aam PBNU dan KH Abdurrahman Wahid sebagai Ketua Umum PBNU. “Sebagaimana dimaklumi Pondok Pesantren Cipasung pada tahun 1994 telah dijadikan tempat Muktamar ke-29 NU. Kami teringat pada waktu Muktamar ke-29 NU sangatlah menegangkan,” ucap Rais Syuriyah PBNU Masa Khidmah 2022-2027 itu. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.